Foto oleh Jakob Owens

Kepada Narablog, Sebelum Kalian Beralih ke Vlog

Ada semacam unsur seni dan kaidah-kaidah komunikasi visual yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang mengenyam pendidikan di jurusan DKV secara resmi. Latar belakang profesi agaknya sangat mempengaruhi kualitas video yang dihasilkan.

Tabel Konten
  1. Dari Segi Kreator 
    1. Vlog Butuh Ruang Penyimpanan yang Besar 
    2. Masih Tergantung Kepada Platform Tertentu 
    3. Sulit Menyunting Video yang Sudah Jadi 
    4. Butuh Banyak Senjata 
    5. Butuh Kolaborasi 
    6. Butuh Waktu yang Tepat 
    7. Harus Aktif Secara Fisik 
    8. Harus Sekali Jadi 
    9. Mengganggu Masyarakat dan Lingkungan 
    10. Akting, Akting, Akting! 
    11. Kamu Mungkin Akan Berhenti Menulis 
  2. Dari Segi Penonton 
    1. Sulit Meloncat ke Bagian-Bagian yang Penting 
    2. Tidak Ada Fitur Pencarian 
    3. Membuang-Buang Waktu 
  3. Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha 

Saya bukan pelanggan video. Menonton video bagi Saya sangat membuang-buang waktu karena video mengalihkan begitu banyak perhatian. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa media pertukaran informasi dalam bentuk kombinasi gambar bergerak dan suara ini sudah masuk merambah ke berbagai lingkungan di masyarakat dari segala sisi. Menonton video itu sangat menghibur! Jauh lebih menghibur dibandingkan sekedar membaca teks, melihat gambar dan mendengarkan musik sebagai diri mereka sendiri secara terpisah. Biaya akses internet di Indonesia semakin hari sudah semakin murah saja, bahkan bisa dibilang hampir gratis. Spesifikasi ponsel semakin hari juga semakin tinggi, dengan harga yang semakin terjangkau pula.

Mengakses video setiap hari menjadi seperti tanpa beban. Tapi, sudut pandang kita sebagai penonton telah menutup mata dan telinga kita dari bahasan-bahasan seputar seni dan teknik pembuatan video yang jauh lebih luas. Kita sebagai penikmat video hanya sekadar tahu dari segi hasilnya saja, yang hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa video tersebut bagus atau jelek setelah menontonnya, tanpa mau tahu proses pembuatan video tersebut dari awal.

Saya akui bahwa Saya sudah sangat terlambat untuk membahas hal-hal semacam ini karena ketika Saya mengamati video-video yang mereka buat, Saya cek tanggal publikasinya dan kebanyakan dari mereka sudah berada di sana selama satu tahun lebih!

Sempat ada perasaan iri. Ingin rasanya ikut-ikutan beralih ke vlog seperti mereka karena Saya pribadi merasa sangat terhibur dengan hasil-hasil karya yang mereka buat. Tapi melihat dari segi beban kerja penyuntingan, efek grafis dan suara yang mereka lakukan di sana-sini, Saya kok malah jadi merasa minder sendiri ya?

Perasaan minder ini bukan tanpa alasan. Karena, untuk membuat konten video memang Saya akui memerlukan perhatian yang lebih khusus dan waktu pengerjaan yang lebih lama. Mau bagaimana lagi, media dalam bentuk video memang sangat erat kaitannya dengan waktu. Terdapat durasi di dalam video, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kalian jumpai pada media berupa tulisan.

Di dalam sebuah video kita bisa menemukan setidaknya tiga buah bentuk media pertukaran informasi sekaligus. Media-media yang Saya maksud di sini adalah media berupa tulisan, gambar dan suara. Bagaimana menggabungkan tulisan, gambar dan suara itulah yang tidak Saya kuasai. Ada semacam unsur seni dan kaidah-kaidah komunikasi visual yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang mengenyam pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual secara resmi.

Latar belakang profesi agaknya sangat mempengaruhi kualitas video yang dihasilkan. Sebagaimana kualitas artikel blog para penulis profesional yang akan secara otomatis menjadi bagus karena memang mereka sudah ada pengalaman dalam bidang tersebut. Pada intinya, ilmu dan sumber daya Saya masih belum sampai ke situ.

Punya program kursus atau sekolah jurusan desain komunikasi visual serta bimbingan menulis yang ingin kamu iklankan di sini? Kamu bisa mencoba memasang tautan.

Berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat Saya mengurungkan niat untuk berpindah ke vlog karena mau bagaimana lagi untuk membuat vlog itu memang membutuhkan peningkatan ekstra dari berbagai segi. Jadi, untuk sementara ini sepertinya Saya hanya bisa mengambil peran sebagai pengamat saja. Oleh karena itu pendapat-pendapat Saya tentang vlog tentu saja akan terbatas pada sudut pandang Saya sebagai penonton video, bukan sebagai pembuat video.

Dari Segi Kreator 

Vlog Butuh Ruang Penyimpanan yang Besar 

Hal pertama yang harus menjadi pertimbangan adalah ukuran berkas. Ukuran video itu tidak kecil! Untuk sebuah video seukuran layar ponsel dengan durasi sekitar lima menit saja sudah bisa memakan ruang penyimpanan lebih dari 10 MB. Akan sangat boros ketika kita ingin menyajikan daftar tonton video yang ada melalui situs web yang kita punya. Karena kalau sudah membahas mengenai biaya hosting eksklusif, maka kita tentu akan berurusan dengan kuota ruang penyimpanan dan lebar pita, yang mana itu semua memerlukan biaya sewa yang tidak murah. Bukan hanya itu, jumlah penonton juga akan mempengaruhi besaran biaya sewa. Semakin banyak jumlah penonton yang melihat video kalian, maka akan semakin besar pula beban lebar pita yang ada. Masalah tersebut hanya bisa diatasi dengan meningkatkan kuota, yang mana itu juga akan meningkatkan biaya.

Punya penawaran VPS yang sesuai untuk para naravlog? Coba pasang tautan di sini, atau minta Saya untuk membuatkan sebuah artikel khusus sehingga Saya bisa mengarahkan pembaca ke artikel tersebut melalui tautan di dalam artikel ini.

Masih Tergantung Kepada Platform Tertentu 

Karena kendala pada biaya dan beban peladen yang besar, maka sebagai solusinya kita perlu memanfaatkan layanan pihak ke tiga yang memang didedikasikan untuk menyimpan dan memutar media berupa video. YouTube adalah salah satunya. Hanya saja kalian tentu akan terikat dengan kebijakan-kebijakan dari pihak YouTube, sehingga akan sangat tidak sesuai jika kalian termasuk tipe orang yang sensitif dengan faktor privasi. YouTube memang memberikan layanan mereka secara gratis, tapi kamu harus tahu bahwa ada hal-hal di dalam video kamu dan orang-orang yang telah menonton video kamu yang bisa mereka jual untuk menutupi pembiayaan sumber daya dan pajak, salah satu contohnya adalah dengan menjual data statistik kepada para pengiklan.

Sulit Menyunting Video yang Sudah Jadi 

Menyunting video yang sudah jadi itu sulit. Masalah-masalah kecil seperti kesalahan eja pada teks-teks yang muncul pada klip-klip tertentu atau efek animasi yang tidak singkron saja bisa memaksa kreator untuk menyunting berkas video mentah yang ada dari awal. Itu membutuhkan waktu yang lama. Kemudian kamu juga harus mengunggah video baru tersebut. Itu juga membutuhkan waktu yang lama.

Sangat berbeda sekali dengan blog yang sebagian besar hanya berisi teks. Menyunting teks itu mudah. Sangat mudah hingga tidak memerlukan banyak waktu untuk melakukannya. Kamu juga tidak perlu menggunakan aplikasi khusus untuk bisa melakukannya. Dalam keadaan yang sangat terbatas, kamu bahkan bisa menggunakan aplikasi catatan bawaan pada ponsel masing-masing. Salah satu contohnya adalah ketika kamu membuat blog dengan sistem manajemen konten Mecha.

Butuh Banyak Senjata 

Seminimal-minimalnya kamu harus punya kamera video, sebuah komputer dengan spesifikasi yang cukup untuk melakukan aktivitas penyuntingan video, dan tentu saja beberapa perangkat lunak untuk melakukan penyuntingan video yang telah direkam.

Butuh Kolaborasi 

Kamu tidak bisa membuat vlog sendiri. Setidaknya kamu perlu seorang teman untuk memegangi kameramu. Kecuali kalau kamu tidak malu berjalan-jalan sendiri sambil membawa kamera yang mengarah kepada diri sendiri. Ngomong kepada diri sendiri.

Kalau kamu orangnya cantik atau ganteng mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau kamu orangnya jelek bagaimana? Jelek itu kan tidak bisa dimaklumi…

Butuh Waktu yang Tepat 

Dalam banyak kasus, kamu tidak bisa merekam video kegiatan pada saat sedang hujan meteor. Kamu harus benar-benar tahu kapan waktu yang tepat untuk merekam video. Ingin merekam video suasana anak-anak yang sedang belajar di sekolah? Jangan mengambil gambar video di hari kiamat!

Harus Aktif Secara Fisik 

Kamu harus aktif secara fisik. Apa saja emosi yang ingin kamu ungkapkan harus kamu tampilkan pada saat itu juga. Hal-hal semacam ini biasanya menjadi sesuatu yang melelahkan karena kondisi kesehatan dan suasana hati akan sangat mempengaruhi kualitas hasil akhirnya nanti.

Harus Sekali Jadi 

Misalkan kamu sedang membuat video proses membuka paket dengan bentuk kemasan yang rumit, tapi kemudian kamu sadar bahwa kamu telah salah posisi membuka di awal. Bagaimana cara membatalkannya?

Misalkan kamu sedang membuat video tentang tahap-tahap memasak tapi lupa menambahkan bumbu pada tahap yang ke tiga. Bagaimana cara mengulanginya? Kalau masakanmu gosong, bagaimana cara membatalkannya?

Gagal merobohkan domino secara beruntun? Susun lagi dari awal, rekam lagi!

Mengganggu Masyarakat dan Lingkungan 

Jangan asal merekam video. Kamu itu orang awam! Bahkan seorang wartawan yang profesional saja masih tetap perlu meminta izin terlebuh dahulu kepada pihak-pihak yang bersangkutan sebelum merekam lokasi-lokasi tertentu untuk keperluan mereka.

Etika harus tetap dijaga, dan selalu ingat bahwa tujuan kamu merekam video di lingkungan masyarakat adalah untuk mengambil keuntungan dari mereka. Jangan munafik, karena bahkan ketika kamu menyatakan bahwa kamu melakukan semua itu secara sukarela tanpa memperhitungkan keuntungan secara finansial, kamu masih tetap akan mengambil keuntungan berupa trafik dan kesempatan untuk menjadi pusat perhatian.

Coba pikirkan bagaimana caranya supaya masyarakat tidak merasa dimanfaatkan, apalagi dirugikan. Mungkin kamu bisa membayar mereka, atau berdiskusi mengenai keuntungan apa yang dapat kamu berikan kepada mereka melalui video yang kamu buat. Mereka punya sumber daya yang kamu butuhkan untuk video, dan kamu punya penonton untuk menerima pesan-pesan dari mereka. Akan lebih bagus lagi jika kamu menuliskan pesan-pesan pada video yang kamu buat bahwa video tersebut telah disetujui oleh masyarakat. Hal-hal semacam ini dapat meningkatkan kepercayaan para penonton sehingga kualitas video yang kamu buat akan secara otomatis meningkat, bukan dari segi kualitas pengerjaannya tapi dari segi kualitas narasumber di dalamnya.

Akting, Akting, Akting! 

Meskipun Saya menyarankan kamu untuk tidak munafik, tapi mau bagaimana lagi untuk bisa membuat video yang menarik, kita memang harus munafik. Dimulai dari pengaturan tata ruang, pencahayaan dan bahkan penampilan fisik menjadi sesuatu yang harus diperhatikan baik-baik. Kamu perlu mandi dan berdandan sebelum merekam video, padahal biasanya kamu jarang mandi. Kamu harus senyum dan semangat di depan kamera padahal biasanya kamu orangnya pesimis dan hobi menulis status-status galau di media sosial.

Tapi hal-hal munafik semacam itu, kalau dapat menjadi kebiasaan sebenarnya akan memberikan dampak yang positif juga pada diri kamu. Jadi saran Saya, kalau kamu sudah bisa dan terbiasa melakukan itu, coba lakukan saja terus-menerus! Itu akan memberikan aura positif kepada orang-orang di sekitar kamu dan mungkin orang-orang akan jadi lebih mudah untuk berinisiatif menyapa kamu karena orang-orang sudah melihat kamu sebagai karakter yang ramah dan optimis melalui video-video yang kamu buat. Respon-respon positif dari orang lain tentu saja akan memberikan efek yang positif juga kepada kamu. Sehingga perlahan-lahan kebiasaan akting kamu akan membentuk pribadi baru yang lebih positif dalam diri kamu, sehingga kelak kamu tidak perlu akting lagi.

Kamu Mungkin Akan Berhenti Menulis 

Karena banyaknya sumber daya yang dibutuhkan, waktu pengerjaan yang lama, dan setelah kamu menyadari bahwa menyampaikan gagasan melalui video ternyata jauh lebih menarik, maka hal-hal tersebut mungkin akan membuat kamu perlahan-lahan berhenti menulis.

Dari Segi Penonton 

Sulit Meloncat ke Bagian-Bagian yang Penting 

Para pengguna YouTube biasanya akan memanfaatkan fitur loncat untuk menandai bagian-bagian yang penting dalam video. Tautan ini bekerja sebagaimana kamu yang memberikan sub-sub judul tambahan di dalam artikel untuk memisahkan antar paragraf yang satu dengan paragraf yang lain. Tapi ini sangat spesifik kepada platform tertentu, karena tidak semua pemutar video daring mampu menyimpan menit-menit tertentu sebagai bookmark.

Tidak Ada Fitur Pencarian 

Format berkas video adalah berupa data biner, dan satu-satunya bagian konten di dalam video yang potensial untuk bisa dicari oleh mesin adalah pada bagian suaranya. Namun tanpa mengubahnya menjadi teks, rasanya tetap mustahil untuk melakukan pencarian kata-kata tertentu di dalam video dengan teknologi saat ini. Kecuali jika video kamu memiliki fitur transkrip otomatis, dimana setiap kata di dalam transkrip tersebut memiliki tautan yang akan membawa kamu kepada bagian-bagian tertentu di dalam video.

Membuang-Buang Waktu 

Karena sulit untuk meloncat-loncat pada bagian yang penting dan sulit untuk menemukan bagian yang ingin kita cari saja, maka kita perlu menonton video tersebut dari awal sampai pada posisi dimana bagian yang kita cari akhirnya ditemukan. Durasi dalam video akan memakan waktu keseharian kita. Ini berbeda dengan artikel blog yang kebanyakan hanya berupa teks, yang dapat kita pindai ke posisi mana saja yang kita mau tanpa harus membacanya dari awal sampai akhir.

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha 

Meskipun menyulitkan dari segi pembuatan dan manajemen waktu, tapi hasil yang diperoleh nantinya tentu akan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Video sudah bukan lagi menjadi media berdaya besar yang mudah untuk diabaikan karena walau bagaimanapun kita berusaha menolak, tetap saja kita akan membutuhkannya. Video adalah satu-satunya media yang paling mendekati realita dalam kehidupan, sehingga membaurkan video ke dalam kehidupan sehari-hari akan terasa jauh lebih mudah karena bahkan tanpa adanya video di dunia ini, kita sebenarnya telah lama menjadi penonton sejak zaman dahulu kala. Melihat dan mendengar kehidupan menggunakan mata dan telinga, adalah salah satu kegiatan yang paling mendekati dengan aktivitas menonton video, iya kan?

8 Komentar

  • Mas Sugeng

    Artikel yang menarik.

    Saya pribadi juga sempat memiliki niat untuk mencoba vlog. Bahkan sudah membeli beberapa peralatan pendukung.

    Tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk mengurungkan niat tersebut. Alasannya kurang lebih sama seperti poin-poin yang dijelaskan di postingan ini. Alasan intinya adalah saya tidak benar-benar menikmati aktifitas vlogging.

    Menurut saya meskipun tren konten video semakin meningkat bukan berarti konten tulisan bakalan ditinggalkan. Saya rasa sampai kapanpun konten tulisan akan tetap eksis.

    • Taufik Nurrohman

      Untuk blogger yang ingin bertransisi ke vlog, mungkin bisa mulai dengan membuat screencast. Bikin video tutorial sepertinya nggak terlalu banyak membutuhkan sumber daya dan orang lain untuk bantu megang kamera.

  • Abu Haqqi

    Kalau saya bukan ngevlog mas, saya buat video YouTube sebagai pendukung materi di blog, nah di YouTube dipasang lagi link artikel blog, jadi saling berhubungan :)

    • Taufik Nurrohman

      Loh, bukannya lebih baik kalau videonya saja yang disematkan ke artikel blog pak?

      • Abu Haqqi

        Betul mas, saya sematkan juga di dlm artikel nya, jd bisa nambah subscribe juga

  • Nurhidayat

    Bagaimana dengan podcast mas? Saya sudah mencoba membuat podcast tapi cuma perkenalan saja itupun suaranya kaku sekali ditambah belum banyak pengalaman yang bisa dibagikan. Mungkin bagi mas yang sudah mempunyai pengalaman banyak akan lebih lancar dalam membuat podcast.

    • Taufik Nurrohman

      Bikin skrip dulu mas sebelum membuat video supaya obrolan bisa terkontrol. Percuma maksa mau ngomong spontan, orang yang sudah berpengalaman pun pasti bakal tetep salah-salah juga.

  • Rajakata

    wah saya yang baca aja capek apalagi yang ngetik ya hehehe






Semua kode HTML akan dihapus kecuali kode-kode HTML yang dituliskan sebagai contoh. Gunakan sintaks Markdown untuk memberi gaya pada komentar.


Batal