Notifikasi

Komentar terbaru.

  • Frank Filler pada Membuat Formulir Kontak dengan Google Drive

    Hi, I was just taking a look at your site and submitted this message via your contact form. The contact page on your site sends you messages like this to your email account which is the reason you're reading through my message at this moment correct? This is half the battle with any type of advertising, getting people to actually READ your message and I did that just now with you! If you have an ad message you would like to promote to millions of websites via their contact forms in the U.S. or to any country worldwide let me know, I can even target your required niches and my charges are very affordable. Send a message to: aindanbogisich@gmail.com

  • Adrianne pada Membuat Formulir Kontak dengan Google Drive

    Hello

    Buy face mask to protect your loved ones from the deadly CoronaVirus. We wholesale N95 Masks and Surgical Masks for both adult and kids. The prices begin at $0.19 each. If interested, please visit our site: pharmacyoutlets.online

    The Best,

    Membuat Formulir Kontak dengan Google Drive · DTE :]

  • Taufik Nurrohman pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    Dinamis, karena dilengkapi dengan fitur formulir yang mampu membaca dan menulis berkas.

  • Taufik Nurrohman pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    Boleh tau filosofi nama Mecha?

    Saya ingin memberi nama aplikasi-aplikasi Saya sebagaimana Saya akan memberi nama robot atau binatang peliharaan. Supaya ketika Saya mengembangkan atau mengurus aplikasi-aplikasi Saya, maka Saya akan seolah-olah sedang mengurus sesuatu yang hidup. Saya harap ini akan berpengaruh juga kepada orang lain yang akan menggunakannya di masa depan.

    https://en.wikipedia.org/wiki/Mecha

    Ada link yang runut agar saya bisa mempelajari cara kerjanya?

    https://dev.to/taufik_nurrohman/mecha-cms-installation-guide-30l6

    Di mana saya bisa bertanya ketika ada problem dalam instalasi?

    https://mecha-cms.com/support

  • Iccha Ahyun Iswari pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    BTW, Mecha itu situs statis atau dinamis?

  • Iccha Ahyun Iswari pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    Mecha CMS

    Namanya bagus sekali. Boleh tau filosofi nama Mecha?

    Ada link yang runut agar saya bisa mempelajari cara kerjanya? Di mana saya bisa bertanya ketika ada problem dalam instalasi?

  • Taufik Nurrohman pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    Bagaimana tahapan Mas Taufik mempelajari seputar website? HTML, CSS, JavaScript, lalu PHP? Atau mempelajarinya secara bersamaan?

    Kalau Saya jawab otodidak pasti jadi enggak menarik lagi karena urutannya berantakan. Awal-awal Saya belajar HTML itu dari tutorial pasang-pasang gawai Blogger. Maklum, narablog pemula suka tiba-tiba jadi hobi pasang fitur jam dinding, musik, dan gawai statistik di blog. Saya juga belajar HTML dari fitur kode sumber di WYSIWYG. Belajar tentang bagian-bagian mana yang bisa membuat teks jadi rata di tengah, mana yang bisa menampilkan tautan dan gambar.

    Saya dulu belajar CSS dari W3Schools. Situs web yang sekarang sudah tidak direkomendasikan lagi untuk pengembang web. Sempat bingung juga karena di tema Blogger itu tidak ada yang namanya tag <style>. Yang ada cuma <b:skin>.

    Saya tertarik belajar JavaScript karena suka dengan gawai-gawai buatan “Abu Farhan”, tapi agak risih waktu itu karena adanya tautan atribusi di semua gawai yang beliau buat yang tidak bisa Saya hilangkan kecuali dengan menyunting kode JavaScript secara langsung. Nama-nama bulan dan hari pada gawai-gawai yang beliau buat juga sebagian besar masih berbahasa Inggris, jadi akhirnya Saya terpaksa mencari tahu bagaimana caranya mengubah teks-teks berbahasa Inggris tersebut menjadi berbahasa Indonesia.

    Saya memaksakan diri belajar PHP setelah aset-aset blog bergaya Blogazine Saya yang Saya simpan di Google Code akhirnya diblokir, berikut akun Google Code Saya karena Saya mengunggah beberapa berkas musik di dalamnya. Waktu itu adalah awal mula Saya memutuskan untuk belajar menyentuh apa yang disebut sebagai Sistem Manajemen Konten.

    Saya saja ngos-ngosan belajar JavaScript karena tidak tahu harus mulai dari mana.

    Saya memulai semuanya dari keterpaksaan karena tuntutan keinginan dan kebutuhan.

    Berdasarkan pengalaman Saya, belajar pemrograman web dari buku fisik itu sia-sia saja. Lebih baik belajar langsung melalui peramban web. Di peramban web kita bisa membuat dan melihat hasil kerjanya secara langsung, sekaligus juga dapat memperoleh informasi secara instan dengan bantuan Google dan situs web dokumentasi favorit.

  • Iccha Ahyun Iswari pada Mengapa Saya Lebih Memilih PHP dibandingkan dengan Node atau Python?

    Bagaimana tahapan Mas Taufik mempelajari seputar website? HTML, CSS, JavaScript, lalu PHP? Atau mempelajarinya secara bersamaan?

    Dari mana Mas Taufik dapat ilmu itu? Apakah dari buku, baik buku berbahasa Indonesia ataupun Inggris?

    Atau, dari situs-situs luar seperti CSS-Tricks dan lain-lain?

    Saya kagum dengan Mas Taufik yang begitu paham dan mahir menulis JavaScript dan PHP.

    Saya saja ngos-ngosan belajar JavaScript karena tidak tahu harus mulai dari mana.

  • Taufik Nurrohman pada CSS adalah Bahasa Pemrograman

    Fitur-fitur baru pada CSS setahu Saya dibuat untuk menyesuaikan kebutuhan para pengguna.

    Pada awalnya, kita membuat tampilan kolom dengan bantuan tabel, cuma kemudian ada kendala dari segi semantik: tidak semua tata letak kolom adalah tabel.

    Kemudian orang-orang mulai menyarankan untuk memakai CSS float saja, walaupun pada prinsipnya CSS float lebih tepat digunakan untuk membuat perataan gambar di antara teks seperti yang biasa kita lihat pada aplikasi Microsoft Word.

    Kemudian muncul CSS flexbox yang dapat meringkas kebiasaan kita dalam menambahkan deklarasi clear: both di blok bawah agar blok tersebut dan seterusnya tidak ikut terpengaruh oleh aliran elemen-elemen dengan gaya float: left atau float: right. CSS flexbox juga sangat membantu untuk membuat tata letak fixed-fluid, dimana salah satu kolom dibuat memiliki lebar yang tetap, sedangkan kolom yang lainnya dibuat supaya responsif mengisi kekosongan yang ada sesuai dengan lebar layar saat itu. CSS flexbox juga memudahkan kita untuk membuat tata letak “kolom sama tinggi”. Mas bisa coba browsing bagaimana cara membuat tampilan kolom sama tinggi dengan CSS. Pada artikel-artikel lama, harusnya mas akan menemukan berbagai cara seperti dengan menggunakan CSS tabel, atau dengan menentukan ukuran padding-bottom yang sangat besar. Beberapa ada juga yang menggunakan bantuan jQuery. Untuk membuat tata letak seperti itu di zaman sekarang, pakai flexbox saja sudah cukup.

    Kemudian muncul lagi fitur CSS grid. Dari segi hasil, secara kasat mata tampaknya sama saja. Fungsinya adalah untuk membuat tampilan deret kolom dan baris seperti pada tabel. Keistimewaan dari CSS grid setahu Saya terletak pada kemampuannya dalam membuat kolom/baris menembus wilayah kolom/baris yang lain. Kalau pada atribut HTML tabel biasanya kita mengenal istilah colspan dan rowspan. Selain dari itu Saya tidak begitu tertarik dengan fitur CSS grid.

    Kira-kira sejak 2017 awal mula saya mengikuti perkembangan DTE di Blogger, Mas Taufik menggunakan bilah sisi di kiri konten, bahkan kini pakai Mecha pun tetap sama.

    Untuk yang ini ada berbagai pendapat. Coba mas googling saja mengenai saran tata letak bar sisi, lebih baik berada di sebelah kiri atau di sebelah kanan. Biasanya nanti mas akan masuk ke artikel-artikel yang berhubungan dengan UX. Keduanya punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

  • Anonim pada Laman atau Halaman?

    Laman = halaman utama untuk web Halaman = muka dari lembar buku

    Sama saja hehe

  • Arif pada CSS adalah Bahasa Pemrograman

    Apa yang mendasari Mas Taufik memutuskan untuk menggunakan flexbox di konten DTE (main dan aside)?

    Saya memiliki asumsi bahwa flexbox lebih tepat digunakan untuk elemen inline block seperti ketika membuat card yang sejajar misalnya, sementara grid digunakan untuk elemen block seperti main dan aside.

    Saya masih belum tahu bagaimana caranya menggunakan grid untuk main dan aside dan ketika di viewport yang lebar bilah sisi (aside) bisa berada dalam sisi kiri dan main berada di seberang kanan.

    Alasannya, barangkali terdapat ideologi tertentu dalam penempatan aside di kiri konten utama, dan saya tertarik untuk juga menempatkan aside di sisi kiri. Kira-kira sejak 2017 awal mula saya mengikuti perkembangan DTE di Blogger, Mas Taufik menggunakan bilah sisi di kiri konten, bahkan kini pakai Mecha pun tetap sama.

    Menurut Mas Taufik, apa persamaan dan perbedaan flexbox dan grid dalam implementasinya? Barangkali asumsi saya di atas tidak tepat atau malah keliru.

  • Taufik Nurrohman pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Ada ekstensinya, cuma untuk dipakai dengan Mecha versi sekarang kemungkinan besar sudah tidak kompatibel. Saya masih mikir-mikir gimana cara menyederhanakannya.

    https://github.com/mecha-cms/x.import

    Untuk sekarang harus pakai ekstensi user dan panel yang kompatibel dengan Mecha 2.4.0.

  • Arif pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Bagaimana cara sampean migrasi DTE dari Blogger ke Mecha? Apakah manual?

    Tulisan saya di Blogger masih sekitar 50an, untuk migrasi manual masih kuatlah klak-klik. Tapi kalau postingannya seperti DTE masa harus migrasi manual. Ada tools-nya kah? Atau ekstensi Mecha menyediakannya?

  • Taufik Nurrohman pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Sayangnya DTE jarang bicara PHP.

    Karena sudah ada situs web Mecha, untuk membahas teknis bahasa pemrograman PHP murni rasanya agak malas mas hehe. Soalnya pasti nantinya Saya bakalan cenderung membicarakan soal Mecha juga (untuk keperluan promosi).

    Saya masih bingung soal user dan control panel. Apakah kita bisa mensubmit artikel secara daring seperti di dasbor Blogger?

    Iya, kalau ekstensi user dan panel diunggah ke hostingan nanti akan bisa dipakai seperti Blogger.

  • Taufik Nurrohman pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Bagaimana cara unggah folder Mecha ke hosting?

    Sederhananya, tinggal cari fitur manajer berkas di dalam akun hostinganmu. Kemudian unggah berkas-berkas Mecha ke folder publik (biasanya namanya www atau public_html).

    Misalnya disk 300-750MB, nah, apakah ini bisa digunakan untuk menjalankan Mecha?

    Saya pakai disk ukuran 500MB bisa untuk membuat situs web DTE, Mecha dan Taufik Nurrohman dengan sistem manajemen konten ini. Yang paling sering menguras kuota hosting biasanya ada dari segi media, misalnya gambar. Untuk penghematan, mas bisa unggah gambar-gambar postingan di Blogger, kemudian URL gambar yang telah diunggah tersebut bisa dipakai untuk ditayangkan di situs web berbasis Mecha. Jadi folder .\lot\asset nantinya akan tetap kosong.

    Mengunggah secara manual itu maksudnya mengunggah melalui fitur manajer berkas, mas. Nggak merepotkan kok. Pengalamannya sama persis seperti ketika kita menggunakan Dropbox atau Google Drive.

    Omong-omong, di kanal YouTube Mas Taufik yang baru sepertinya ganti distro Linux ya?

    Masih pakai Elementary OS, cuma lagi eksperimen gonta-ganti lingkungan desktop saja sampai bisa nemu yang cocok. Yang kamu lihat di video itu, Saya pakai Openbox. Rencana ke depan sebenarnya Saya ingin pakai Arch versi vanila saja supaya lebih ringkas. Ini Saya cuma iseng-iseng pasang Linux di laptop lama, mumpung belum mati total. Kalau sudah ada yang baru rencananya Saya mau 90% fokus koding pakai Linux saja. Untuk sekarang Saya lebih cenderung ke pengalamannya saja. Kalau pakai laptop lama kan nggak terlalu berisiko kalau sampai terjadi apa-apa.

  • Arif pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Kalau untuk nulis kode XML Blogger, saya sudah bisa dengan belajar dari DTE. Awalnya saya merasa nyaman hanya dengan menulis di Blogger. Dan melihat bahasa pemprograman seperti PHP, Phyton, Node.js, dll saya tertarik. Sayangnya DTE jarang bicara PHP. Saya pun cari buku-buku berbahasa Inggris tentang PHP dan kini mulai mempelajarinya, kalau untuk nulis JavaScript ecek-ecek saya bisa tapi bukan ahlinya seperti Mas Taufik. Kalau tidak ada Google, DTE, mungkin saya tidak kenal Mecha.

    Dan akhirnya, kemarin belajar dari Youtube untuk install Apache dan PHP, dan membuat eneble mbstring sesuai arahan buku panduan Mecha. Alhamdulillah saya bisa jalankan Mecha di localhost. Dan kini masih utak-utek cara kerja Mecha di panduan mecha-cms.com.

    Saya masih bingung soal user dan control panel. Apakah kita bisa mensubmit artikel secara daring seperti di dasbor Blogger?

  • Arif pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Kalau yang di dev.to saya sudah baca dan simak sebelum mas Taufik beritahu. Saya cari di Google siapa saja yang menggunakan kata kunci Mecha CMS, dan nemu dev.to. Saya tidak tahu siapa saja yang menggunakan Mecha, tetapi lewat Google saya cari tahu dan ada salim.id yang berbagi pengalaman menggunakan Mecha.

    Saya sudah unduh Mecha dan sebagian besar ekstensinya. Dan sudah saya coba jalankan di localhost. Namun, kendala saya ada di pertanyaan: bagaimana cara unggah folder Mecha ke hosting. Saya rencana mau sewa hosting, dan sudah cari-cari tapi bingung. Misalnya disk 300-750MB, nah, apakah ini bisa digunakan untuk menjalankan Mecha. Saya belum patek paham soal hosting dan cara kerjanya. Sedangkan di buku panduan Mecha, mengatakan bahwa bisa mengunggahnya secara manual, bagi saya ini merepotkan. Ada juga opsi ftp, nah, saya belum tahu cara kerja ftp dan belum juga mencari tahu.

    Dan Mas Salim.id mengatakan juga bisa pakai git untuk menunggah Mecha ke hosting. Saya lihat hosting yang murah tidak ada fitur git. Jadilah saya bimbang.

    Omong-omong, di kanal Youtube Mas Taufik yang baru sepertinya ganti distro Linux ya? Dulu kayaknya pakai ElementaryOS. Kini pakai distro apa Mas?

    Saya pernah pakai ElementaryOS, tapi kini kembali ke Windows. Hehe. Tapi saya tetep suka produk-produk open source ketimbang pakai yang bajakan.

  • Taufik Nurrohman pada Fungsi PHP dan JavaScript untuk Navigasi Halaman Angka

    Kapan-kapan Saya buat di kanal ini saja paling:

    https://youtube.com/channel/UCkr6kdzTlI_bgB3hu85VtuQ

  • Taufik Nurrohman pada Alasan Saya Pindah ke WordPress

    Saya ada mau buat kanal YouTube baru pakai akun Google yang masih bersih, tapi sementara belum Saya isi apa-apa. Kalau spek komputer sudah cukup insya Allah bakalan Saya isi.

    https://youtube.com/channel/UCkr6kdzTlI_bgB3hu85VtuQ

    Sementara bisa lihat-lihat video dummy Saya di sini:

    https://dev.to/taufik_nurrohman/mecha-cms-installation-guide-30l6

  • Mujib M. pada Fungsi PHP dan JavaScript untuk Navigasi Halaman Angka

    Pengen belajar dari awal, rekomendasi dari halaman berapa ya mas?